Rizka Wahyu Romadhona yang akrab dipanggil Rizka, wanita kelahiran Surabaya 29 tahun yang lalu, sukses menjadi pengusaha muda di bidang kuliner yaitu bisnis Lapis Bogor Sangkuriang yang mengantarnya menjadi Pemenang I Lomba Wanita Wirausaha Mandiri Femina 2013. Wanita yang sudah memiliki suami yang bernama Anggara Kasih Nugroho Jati sudah menjadi seorang miliuner.
Sempat bangkrut saat berbisnis bakso, Rizka Wahyu Romadhona kini sukses dengan bisnis kue lapis dengan label Lapis Bogor Sangkuriang. Kejelian perempuan yang besar di Bogor ini dalam membaca peluang usaha di kota hujan, membuat kue buatannya kini laris diburu pembeli.
Rizka memulai berbisnis kue lantaran terdesak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebelumnya, bersama suami Anggoro Kasih Nugroho, ia mempunyai usaha bakso sejak tahun 2008, bahkan sampai memiliki 20 cabang dengan sistem kemitraan. Namun karena ada kesalahan dalam manajemen, omzet usahanya itu perlahan terus menurun dan akhirnya bangkrut. Kebangkrutan itu bahkan menyisakan cicilan rumah selama empat bulan yang tak bisa dibayar, dan memaksanya untuk menjual mobil, dan merelakan tiga motor operasional-nya ditarik kembali oleh leasing.
Saat itu kondisi keuangannya benar-benar minus. Namun ia terus berpikir, untuk menemukan usaha lain yang bisa dilakukan selanjutnya. Akhirnya setelah berpikir lama, muncul ide menjual oleh-oleh berupa kue lapis talas dengan nama Lapis Bogor Sangkuriang. Ia terinspirasi dari lapis Surabaya, dan merasa tidak ada salahnya kalau di Bogor pun ada kue lapis Bogor.
Oleh karena sudah diniatkan ingin memiliki usaha, tak ada rasa kapok dalam diri Rizka untuk berbisnis lagi. Pilihannya berbisnis kue didasarkan pada kenyataan bahwa Bogor, tempat tinggalnya selama ini, dikenal sebagai kota pariwisata. Tiap akhir pekan selalu macet oleh wisatawan. Dari situ Rizka berfikir, jika ia bisa menjaring 10 persen saja dari wisatawan itu untuk membeli produknya, hasilnya sudah sangat lumayan. Ia pun sengaja memilih talas sebagai bahan dasarnya, karena kota Bogor juga identik dengan talas. Maka tak ada salahnya untuk memanfaatkannya. Dengan pengolahan yang baik, talas pun bisa dijadikan makanan yang modern. Terlebih selama ini belum ada yang mengolah talas menjadi kue lapis, hanya sebatas keripik dan gorengan saja.
Sebetulnya, Rizka yang merupakan alumni Tehnik Elektro ITS Surabaya ini tidak terlalu pandai membuat kue. Satu-satunya kue yang mampu ia buat hanyalah kue lapis Bogor ini. Itu pun setelah terlebih dahulu belajar dari ibunya yang kebetulan memang suka membuat kue rumahan. Setelah itu, ia memodifikasinya sendiri. Sekitar sebulan lamanya ia belajar, seminggu bisa sampai tiga kali ia terus mencoba-coba membuat kue modifikasi dari talas.
Pertama kali ia membuat kue, hasilnya bantat. Terkadang juga terlalu manis. Awalnya hanya kerabat dekat yang diminta untuk mencicipi. Ia pun selalu memperbaiki kuenya berdasarkan saran dari para kerabatnya itu. Setelah itu, gantian para tetangganya yang diminta untuk mencicipi. Ternyata menurut mereka hasilnya enak, bahkan mereka juga mulai memesan. Sejak itulah, Rizka dan suaminya mulai serius berjualan kue lapis talas Bogor.
Rizka memulai bisnisnya ini dengan modal yang sangat terbatas, hanya Rp 500 ribu, yang merupakan sisa dari bisnis baksonya. Uang itu ia belikan bahan baku dan alat pengukus. Ia menggunakan tepung talas yang dibelinya dari toko langganan di pasar yang harganya sangat murah. Oleh karena dikerjakan sendiri bersama suaminya, awalnya produksi dimulai dari pukul 06.00 hingga pukul 04.00 keesokan harinya.
Setelah mendapat pesanan dari para tetangganya, Rizka lalu mulai menawarkan kuenya ke teman-teman kampus, keluarga lain, kelompok pengajian, dan komunitas lain, seperti komunitas entrepreneur. Lalu ia juga mencoba masuk ke instansi pemerintah. Ketika berhasil masuk ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan, ia mendapat respons yang sangat baik, bahkan ditawari menjadi mitra binaan. Dari situ ia sering diajak pameran dan mendapat berbagai pelatihan.
Rizka pun juga mencoba masuk ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, karena di kemasan kue lapisnya tercantum slogan “Visit Bogor”. Ternyata respons-nya juga positif. Ia lalu dikenalkan ke Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota dan Kabupaten Bogor, yang langsung memfasilitasi penjualan produknya. Ketika PHRI mengadakan sebuah acara, ia selalu diundang untuk ikut meramaikan. Misalnya, ketika ada diklat di sebuah hotel selama tiga hari, ia diundang di hari terakhir untuk berjualan dengan sistem bagi hasil.
Semula Rizka hanya menawarkan satu varian kue lapis, yakni lapis Bogor talas. Tapi saat ini sudah ada lapis Bogor keju, lapis Bogor brownies talas, dan lapis Bogor green tea. Dalam proses produksinya pun saat ini ia juga berusaha meminimalisir sentuhan tangan. Jadi hampir semua proses menggunakan mesin, termasuk mengolah krim lapisannya.
Saat ia mengikuti berbagai pameran untuk menjual produknya, respons yang diterima dari masyarakat juga sangat positif. Awalnya, ia hanya menggunakan kemasan plastik mika warna cokelat yang ditempeli stiker. Namun setelah mengikuti beberapa pelatihan, ia baru menyadari bahwa kemasan yang menarik juga sangat penting. Akhirnya, ia pun mulai mengganti kemasannya dengan menggunakan boks. Hasilnya, orang jadi makin tertarik dan lonjakan penjualannya pun semakin lumayan.
Awalnya, per hari hanya dua boks yang terjual, lalu perlahan mulai meningkat hingga mencapai 50-100 boks per hari. Rizka pun mulai berani membuka outlet di Jalan Baru (Jalan Soleh Iskandar), Bogor di Desember 2011. Empat bulan kemudian, ia membuka outlet lagi di Jalan Pajajaran dan di Puncak pada Desember 2012. Sekarang ia juga sudah punya pabrik sendiri di daerah Tanah Baru, Bogor. Kini kue yang bisa terjual sudah di atas 2000 boks per harinya, dengan harga Rp 25-30 ribu per boks.
Rizka tentu saja tak bisa melupakan peran media yang membuat usahanya bisa berkembang dengan pesat seperti saat ini. Tadinya, outlet yang teletak di Jalan Baru dibagi menjadi dua ruangan. Satu untuk produksi, dan satunya lagi berfungsi sebagai toko. Namun lama kelamaan tempatnya sudah tak mencukupi lagi karena jumlah pembeli dan produksi makin banyak. Saat membuka outlet di Jalan Pajajaran, akhirnya produksi sempat dipindahkan ke sana dengan memanfaatkan ruang di lantai basement yang kebetulan tersedia.
Dan lagi-lagi, tempatnya tidak mencukupi. Akhirnya ia pun membangun pabrik khusus di daerah Tanah Baru. Meski hanya seluas 400 m2, namun sanggup memenuhi kebutuhan produksinya.
Ciri khas lapis Bogor buatannya adalah tentu saja dari bahannya yang menggunakan talas, teskturnya juga sangat lembut, dan rasanya tak terlalu manis. Biasanya kue lapis Bogor buatannya sering dijadikan oleh-oleh, arisan, rapat, atau untuk dikonsumsi sendiri.
Dalam menjalankan usaha, tentu saja ada beberapa kendala yang kerap ditemui Rizka. Mulai dari saat memulai usaha dengan kendala modal yang terbatas, maka untuk penjualannya pun juga masih sangat terbatas, karena tak langsung bisa membuka outlet. Bersama suaminya ia pun harus bergerilya dari satu kantor ke kantor lain untuk memasarkan kuenya. Kendala lain yang terjadi saat ini terletak pada sumber daya manusia dan ketersediaan mesin pengukus. Mesin yang dimilikinya saat awal merintis usaha sudah tidak memadai lagi jumlahnya untuk memenuhi kebutuhan produksi sekarang.
Rizka pun segera mengatasinya dengan menambah 15 mesin tambahan lagi dengan kapasitas 96 loyang per mesin untuk sekali pengukusan. Sekarang ini, kue yang diproduksinya memang cepat sekali habis, meskipun dalam sehari, beberapa kali dikirim dari pabrik. Dua minggu sebelum lebaran, pembeli bisa antre sejak pukul 06.00 sampai sepanjang 200 meter, meskipun outlet baru dibuka pukul 07.00. Agar pembeli tetap tertib, Rizka pun sekarang menerapkan sistem nomor antrian.
Semula Rizka memang tidak pernah membatasi orang yang ingin membeli kue di outletnya. Namun ia mendapatkan kenyataan banyak orang yang sekali beli sekaligus dalam jumlah banyak, yang membuat kuenya langsung habis dalam waktu satu jam sejak dikirim dari pabrik. Sehingga banyak pembeli berikutnya yang tidak kebagian, terutama wisatawan yang datang dari luar kota di akhir pekan. Tentu saja hal ini sangat mengecewakan mereka.
Ternyata, pun orang yang membeli dalam jumlah banyak itu lalu menjualnya kembali dengan mobil di tempat parkir depan outletnya. Maka oleh karena itu, sejak September 2012 ia membatasi jumlah pembelian, maksimal hanya lima boks per orang. Ini juga sekaligus untuk mengurangi orang yang menjual lagi kue lapisnya, sehingga lebih banyak orang yang kebagian.
Orang-orang yang menjual kuenya lagi di luar, tentu saja dapat memberikan pengaruh yang kurang baik untuk usahanya. Mereka tentu saja akan menjualnya dengan harga yang lebih tinggi, sehingga orang lain pun jadi malas beli. Selain itu, kue yang dijual di luar juga tidak bisa dijamin kualitasnya, karena bisa saja terkena debu atau sudah berumur beberapa hari. Padahal kue lapis Bogor buatannya ini tidak menggunakan pengawet, sehingga rentan terhadap panas. Jika biasanya masa kadaluarsanya empat hari, bisa jadi akhirnya cuma dua hari karena dijual di tempat yang terkena sinar matahari.
Soal masalah kadaluarsa, Rizka mengaku pernah mendapatkan komplain dari pembeli. Ada pembeli yang setelah kue dibawa ke luar dari tokonya dalam kondisi panas, lupa dikeluarkan dari dalam mobil. Akhirnya, dalam dua hari saja kuenya langsung berjamur. Pernah juga ada orang yang komplain terhadap kualitas kuenya, padahal ia membelinya di luar outlet resmi.
Selain menjual langsung melalui outlet, Rizka juga mempunyai strategi pemasaran lain yang ia gunakan untuk meluaskan penjualan produknya. Yakni dengan memanfaatkan jejaring media sosial, melalui akun Facebook Lapis Bogor dan Twitter @LapisBogor. Dulunya, ia juga pernah memakai sistem layan antar. Pernah ada seorang ibu hamil di Bandung yang ngidam ingin makan kue lapisnya. Akhirnya ia kirimkan. Namun sampai sana ternyata kuenya berantakan. Sejak itu, layanan itu pun dihentikan, dan lebih memilih fokus menjual di Bogor saja.
Rizka juga tidak ingin mewaralabakan usahanya, meskipun banyak sekali yang menawarkan. Ia tetap ingin mengelola sendiri usahanya. Saat ini karyawannya sudah sekitar 100 orang. Bila dulu hanya ia dan suaminya yang mengelola, sekarang sang suami hanya mengurusi operasional, sementara ia mengurusi manajemennya.
Usaha yang digeluti Rizka ini juga telah membuahkan penghargaan, antara lain pada Wirausaha Muda Mandiri 2012 untuk regional Jabodetabek dan Wanita Wirausaha Mandiri 2013 dari sebuah majalah wanita. Selain itu ia juga sering diminta pihak Istana Negara di Bogor dan Cipanas untuk mengisi berbagai acara. Ketika ibu Ani Yudhoyono berulang tahun beberapa waktu yang lalu, kuenya sempat dijadikan sebagai souvenir. Selebritis pun banyak juga yang membeli kue di outletnya. Mereka umumnya tahu dari media dan sosial media.
Rencana berikutnya, Rizka ingin membuka outlet yang sekaligus menyatu dengan rumah makan. Di dalam rumah makan itu nantinya akan diisi dengan iringan alunan musik tradisional Sunda. Ia aka mengajak kerja sama dengan seorang budayawan Bogor untuk mewujudkan idenya ini.
Bila melihat ke belakang, Rizka tentu saja tidak pernah membayangkan usahanya ini akan sukses cepat. Namun yang jelas, dari usahanya yang berjalan bagus ini, rumahnya tidak jadi disegel oleh pihak bank, walau sudah sempat dipasangi pengumuman ‘akan dijual’.
Kenapa Rizka Wahyu Romadhona disebut sebagai entrepreneur?
Karena Rizka tidak pantang menyerah dalam menjalankan usahanya. Walaupun sempat terpuruk dengan mengalami kerugian yang sangat besar, ia mampu bangkit kembali untuk memulai usaha. Melihat peluang yang ada, Rizka bersama suami berusaha membuka usaha kuliner dengan berbahan baku berupa talas yang banyak dijumpai di daerah bogor. Dengan tekun dan gigih, ia mampu menuai hasilnya sekarang dengan mendapatkan pendapatan yang sangat besar nilainya.
Karakter apa yang dimiliki?
• Sifat Kerja Keras
• Sifat Keyakinan Diri
• Sifat Pengambilan Resiko
• Sifat Inovatif
• Sifat Prestatif
• Sifat Presumptuous
Outlet LAPIS BOGOR SANGKURIANG :
1. Jalan Raya Pajajaran komplek ruko bantar kemang no.20 O, Bogor, Indonesia 16310 , Telp. (0251) 7103322
2. Ruko Jl.sholeh iskandar (100m dari Yogya di sebelah kanan) Telp. 0818 0898 3322
(Vindalita Nur Annisa)
READMORE
Kuncoro Wibowo : Pendiri PT. Ace Hardware Indonesia
Lahir tahun 1956, anak pertama dari sembilan bersaudara. Kuncoro Wibowo tidak sempat melanjutkan pendidikan formal karena peristiwa G30SPKI, namun iatetap mendapatkan pendidikan dengan menggundang guru dan belajar di rumahnya. Kuncoro tidak mempunyai ijazah resmi SD, walaupun ia belajar privat setara sampai dengan SMA. Berbeda dengan Adik-adiknya yang setelah peristiwa G30SPKI, melanjutkan sekolah di luar negeri.
Bisnis Ace Hardware dan Chatime
Ayahnya mempunyai toko perkakas berukuran 3x3 meter di kawasan Glodok, sedangkan ibunya adalah ibu rumah tangga. Masa kecilnya sering dihabiskan di toko ayahnya, sepulang sekolah ia sudah dilatih untuk membantu ayahnya berjualan di toko. Kegiatannya ini sering diselingi dengan les bahasa Inggris dan Mandarin, ia baru pulang ke rumah setelah toko tutup, pukul 5 sore
Ketika remaja, ia sudah diajarkan oleh ayah nya untuk berbisnis kuncoro sering berkeliling ke luar negeri, berinteraksi dengan para pemasok barang-barang perkakas tokonya dari luar negeri dan menawar dengan kemampuannya sendiri. Ia juga sering berkunjung ke berbagai pameran perkakas.Hal ini berlanjut hingga ayahnya meninggal dunia pada tahun 1981. Saat saudara-nya pergi keluar negri melanjutkan pendidikan, Kuncoro Wibowo tetap di Indonesia dan meneruskan bisnis ayahnya.
Bisnis perkakas ini berlanjut dengan didirikan PT Kawan Lama Sejahtera pada tahun 1980. Dalam kurun waktu yang tidak lama, mereka membuka kantor pusat di gedung baru kawasan Glodok Jaya. Tahun 1995, dibantu oleh 5 saudaranya, ia mulai berekspansi dengan mendirikan PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk. PT. Ace Hardware Indonesia, Tbk. adalah pemegang lisensi tunggal Ace HAdware, sebuah perusahaan retail perabot rumah tangga dan perkakas dari Amerika Serikat.
Ace Hardware Indonesia, pertama kali membuka tokonya di Supermal Karawaci, Tangerang, pada tahun 1995. Tahun 1997, PT Kawan Lama Sejahtera berpindah kantor pusat di kawasan Meruya-Kembangan, Jakarta Barat. Di tempat tersebut, mereka juga membuka showroom untuk displai produk seluas 2.000 m2. Showroom tersebut dan memungkinkan simulasi dan testing produk bagi calon pembeli yang ingin menjajal produknya.
Ekspansi bisnis Grup Kawan Lama berlanjut, tahun 2011melalui PT Retail Estate Solution, mereka membangun Living World, Alam Sutera dengan luas ACE Hardware sebesar 15.000 m2. Ace Hardware, Living World mendapatkan Rekor MURI sebagai Ace Hardware terbesar di Indonesia (luas 15.000 m2 dengan 75.000 jenis barang). Selain itu, ACE Hardware Living World dianugerahi juga sebagai store ACE Hardware terbesar di dunia. Sekarang sudah terdapat 110 toko Ace Hardware di seluruh Indonesia.
Kuncoro Wibowo juga satu-satu nya orang yang mempunyai franchise minuman the buble Chatime asal Taiwan, yang berada di Indonesia. Kuncoro Wibowo masuk ke dalam orang terkaya se-Indonesia menempati urutan 20 menurut majalah Forbes pad tahun 2014 dengan kekayaan 10 Triliun.
Kenapa disebut enterpreneur
Sejak kecil Kuncoro tidak pernah mengeluh saat ia tidak dapat bersekolah dan harus membantu ayahnya setiap hari di toko hingga sore. Ia berani pergi keluar negri saat masih belia dan melakukan negoisasi untuk peralatan yang dibelinya dari orang asing.
Pada saat ayah-nya meninggal ia tidak terpuruk dalam kesedihan dan bertekad untuk melanjutkan bisnis ayahnya yang telah diajarkan oleh ayahnya dan bisnis nya tidak mendapatkan guncangan karena ia telah belajar dari kecil.
Saat mengalami masa sulit dalam hidup-nya tidak pernah membuat Kuncoro menjadi down atau terpuruk. Kuncoro adalah pekerja keras, semenjak sudah terbiasa tidur larut malam. Pulang, sampai di rumah, saya tidak langsung tidur, tapi membereskan bon-bon. Buat perencanaan besok, jam 1 dini hari, ia tidak suka bermalas-malasan, namun ia menganggapnya tidak sebagai beban namun ia senang melakukannya.
Ia juga bekerja keras mengembangkan usahanya hingga membuat PT. Kawan Lama serta berani untuk mengambil lisensi Ace Hardware dari amerika serikat. Dan membuka toko di Indonesia. Kuncoro pun terus ber-inofasi dengang membuat produk perkakas sendiri dengan merek Krisbow yang hanya di jual di Ace Hardware dengan kualitas yang tinggi. Kuncoro pun membuka terus membuka Ace Hardware diseluruh Indonesia hingga mencapai 110 toko.
Tidak sampai itu Kuncoro juga berani mengambil francise minuman asal Taiwan untuk ada di Indonesia. Kuncoro juga menerapkan practice by doing agar terus sukses, dengan mengutamakan kepercayaan pelanggan untuk memajukan usaha-nya. Ia juga bekerja keras, inovative, berani mengambil sesuatu yang beresiko, dan juga gigih.
Bisnis Canvas
(Anajmi Nurintyo)
READMORE
Djoko Susanto : Pendiri Alfamart
Djoko Susanto (lahir Kwok Kwie Fo, 1950, Jakarta, Indonesia) adalah seorang pengusaha asal Indonesia. Ia adalah pemilik grup Alfamart, bisnis ritel dengan mini-mart konsep. Pada 2014, Forbes menempatkan ia pada urutan 27 dari 50 orang terkaya di Indonesia
Joko adalah anak keenam dari 10 bersaudara, ia hanya mencapai kelas 1 dan terpaksa harus putus sekolah karena pemerintah Indonesia melarang siswa dengan nama-nama Cina (ia kemudian mengubah nama terakhir). Pada usia 17 ia mulai mengelola orang tuanya sederhana 560-kaki kios dengan nama Sumber Bahagia di dalam Pasar Arjuna, sebuah pasar tradisional di Jakarta. Kios tersebut menjual bahan makanan pada saat itu, selanjutnya ia juga menjual rokok dan membuka warung. Kesuksesannya ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu.
Pada 27 Agustus 1989 Lahirlah Alfa Toko Gudang Rabat yang mempunyai konsep supermarket. Nama "Alfa" digunakan karena bersifat netral, tidak mengandung salah satu nama kedua orang pendirinya. Alfa Toko Gudang Rabat inilah cikal bakal kesuksean Djoko Susanto dengan brand Alfa.
Ia melanjutkan kemitraan dengan Putera Sampoerna hingga 2005, bisnis rokoknya, 70% dari bagiannya untuk kemudian dijual Sampoerna Altria termasuk bagiannya pada bisnis ritel yang dijalankan oleh Djoko. Altria tidak menginginkan pada bisnis ritel dan kemudian menjual saham mereka ke Northstar, tapi Djoko kemudian membeli saham dari Northstar, membuatnya memiliki bagian terbesar dari 65%. Dia kemudian mengembangkan bisnis ritel Alfa Supermarket yang saat ini, di bawah pengelolaan PT. Sumber Alfaria Trijaya Tbk, mereka menjalankan lebih dari 5.500 toko di bawah beberapa merek seperti Alfamart, Alfa Express, Alfa Midi dan Lawson.
Alfamart awal mula berdiri bernama Alfa Mini Mart. Alfa Mini Mart berdiri di tahun 1999 dimana krisis ekonomi sedang melanda Indonesia dan dunia. Pada saat itu Djoko Susanto yakin bahwa keinginan untuk maju dan pantang menyerah dapat membawa kepada kesuksesan yang mana terbukti saat ini.
Pada 2007, ia mendirikan Alfa Midi dengan badan hukum bernama PT. Midimart Utama. Ini merupakan salah satu idenya dalam diferensiasi merk yang berakhir sukses. Namun tidak semua usahanya sukses. Alfa Supermarket yang awalnya bernama Alfa Toko Gudang Rabat akhirnya harus dijual kepada Carrefour. Hal ini karena Alfa Supermarket tidak menghasilkan pendapatan yang signifikan akibat kalah bersaing dengan supermarket lain. Akhirnya ia fokus pada ritel mini market. Langkah Djoko tepat dalam menginvestasikan uangnya ke Alfamart dan Alfamidi. Hal ini ditandai dengan semakin menjamurnya gerai Alfamart di berbagai daerah dan terbentuknya kerja sama Alfa Midi dengan Lawson
Melalui Yayasan Pendidikan Bunda Mulia yang didirikan pada tahun 1986, Djoko Susanto mendirikan Universitas Bunda Mulia dan Sekolah Bunda Mulia. Di Yayasan pendidikan Bunda Mulia, ia menjadi Pendiri dan Penasehatnya. Tahun 2003, Yayasan Pendidikan Bunda Mulia mengembangkan kampus keduanya.
Djoko Susanto membiasakan diri untuk beradaptasi dengan peraturan dan etos kerja yang ada.
Bila kita memiliki keluarga yang harmonis, disiplin dan pekerja keras, maka hal tersebut akan terbawa hingga kita beranjak dewasa dan memasuki dunia kerja. Salah satu contoh kedisiplinan keluarga yang melekat dan terbawa hingga ke dunia bisnis ada pada sosok Djoko Susanto.
BMC
(Ananda Riska Amalia)
READMORE
Gamal Albinsaid
Asuransi Sampah untuk Kalangan Bawah
Gagasan Asuransi Sampah menurut
Gamal Albinsaid, digerakkan bersama empat sahabatnya, plus dukungan satu
dosennya di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang, yaitu dr Rita
Rosita pada Maret 2010.
Idenya memang dari Gamal. Pria yang
sebentar lagi selesai dari kuliah kedokterannya awal Mei tahun ini, melakukan
riset sebelumnya hampir 80% masyarakat membiayai kesehatannya tanpa asuransi,
atau biaya sendiri setiap kali periksa kesehatan. Terlebih separuh dari
penduduk Indonesia masih masuk low middle income, yang pendapatanya
masih di bawah US$ 2 per hari bahkan 10% masih di bawah US$ 1.
Dalam skala nasional pun, alokasi
anggaran kesehatan sekitar 2-3% saja, dari seluruh APBN. Padahal standar WHO minimal
anggaran 5%. Di satu sisi Indonesia juga punya potensi sampah yang besar. Gamal
menyebut penghasilan sampah di Amerika itu nilainya bisa sekitar US$ 150 juta.
Sedang penghasilan sampah di Indonesia sehari itu bisa 80.200 ton, di Jakarta
saja bisa 6.500 ton. Semua produk akan berakhir ke sampah.
Dari data tersebut, membuat Gamal
dan teman-temannya berpikir, bagaimana meningkatkan anggaran kesehatan tiap
keluarga dari “produksi” dalam keluarga. Keluarga menengah ke bawah pun bisa
membiayai kesehatannya. Ini yang tidak disadari. Bahwa sampah yang dihasilkan
dalam rumah, bisa dijadikan uang, yang bisa jadi jaminan kesehatan. Mereka
menyebutnya micro currency
Akhirnya dikembangkanlah micro
insurance dengan memobilisasi masyarakat, menjadikan sampah sebagai sumber
anggaran kesehatan mereka. Ia mulai gagasan ini di sebuah klinik kesehatan di
Lowok Waru, di sebuah kota kecamatan di Malang.
Klinik itu mau menerima ide
tersebut atas dukungan dokter Rita karena klinik binaannya.Dokter Rita juga
tokoh yang disegani di sana. Sayang gagasan itu tidak bisa berlanjut di klinik
tersebut. Sebagai asuransi mikro ini minimal yang berpartisipasi 200 orang. Nah
sistem yang belum sempurna, kurangnya anggota menjadi kendala saat itu.
Setelah gagal di klinik tersebut,
mereka tidak berhenti dan menyerah. Setelah menyempurnakan sistem. Mulailah
asuransi sampah ini dijalankan di lima klinik lain, yaitu empat di Kota Malang,
satu di Kabupaten Malang. Dua sengaja didirikan oleh dokter Rita, Gamal dan
sahabatnya itu, sedang yang tiga klinik swasta.
Jadi ada tim khusus sebagai staf recycling
center, mereka yang bertugas untuk mengolah sampah. Lalu bekerjasama dengan
Bank Sampah Malang juga. Jadi sebagian sampah yang terkumpul dari anggota
dijual ke bank tersebut, dan sebagian lagi diolah menjadi pupuk.
Saat ini anggota asuransi sampah
sudah 500 orang. Gamal dan teman-teman menjalankan metode baru yaitu Pengobatan
Sampah. Ada beberapa titik di mana masyarakat bisa menyetor sampahnya dan
mendaftar menjadi anggota. Nilai premi sampah itu minimal Rp 10 ribu.
Tim Gamal ada 47 orang di bawah
sebuah perusahaan yang diberi nama “Indonesia Medika”. Nah di perusahaan ini,
kata Gamal, bukan saja Asuransi Sampah yang digerakkan.
Indonesia Medika ini tujuannya
sangat besar, mewujudkan setiap riset menjadi sesuatu yang nyata. Gamal
prihatin karena banyak penelitian hanya berakhir di paper atau
jurnal-jurnal. Rendah implementasi. Saat ini ada delapan titik yang siap
menggerakkan ini di seluruh Indonesia. Masing-masing punya 10 anggota. Di
Medan, misalnya, ada tim yang menerapkan ini. Proyeknya bukan hanya
asuransi sampah.
Mereka menyadari, harus ada
kolaborasi penelitian dan penerapan. Selain itu, orang kesehatan tidak bisa
jalan sendiri, harus ada interkoneksi. Maka butuh orang ekonomi, hukum, dan lain-lain
untuk mengembangkan dunia kesehatan. Indonesia Medika ini mendorong semua orang
dengan latar belakang disiplin ilmu berbeda untuk mengembangkan dunia kesehatan
melalui beberapa gerakannya. Separuh orang Indonesia Medika adalah orang medis,
separuhnya nonmedis.
Salah satu projek yang baru adalah
sabuk bayi pintar. Bayi bisa mendengar sejak usia tiga bulan, ada yang bilang
musik klasik bisa mencerdaskan, atau bagi ibu atau ayah yang muslim di dekat
ibu hamil yang rajin membaca Al Quran akan mudah menghafal anaknya nanti.
Sabuk bayi pintar ini dikenakan
oleh ibu hamil, bisa menstimulasi otak bayi berkembang lebih pesat. Produknya
sudah diluncurkan sejak hari ibu tahun lalu. Distribusinya akan ke seluruh
Indonesia pada Maret tahun ini. Indonesia Media juga menggagas Mother Happiness
Center. Itu semua ada di website Indonesia Media informasinya.
Apakah profit oriented? Saat
ini belum, prinsip Gamal, mereka siapkan sumber daya ide, orang, dan jaringan,
nanti sumberdaya finansial akan datang dengan sendirinya. Nah, sejauh ini
mereka menggaet kerjasama-kerja sama dengan banyak pihak.
Lalu ada Tomokid, To mother and
kid, nah ini semacam layanan online konsultasi dengan dokter tentang
ibu dan anak dibawah website Care for Mother. Indonesia Medika kini
sudah berbadan hukum untuk keleluasaan gerak dan kerjasama dengan banyak pihak.
Sayang Gamal mengaku tidak terlalu
hafal angka nilai uang yang sudah terkumpul dari asuransi sampahnya. Alasannya
itu ada staf yang mencatat. Untuk asuransi sampah, Gamal dan tim menolak jika
ada anggota yang hanya menyetor uang saja, harus setor premi dengan sampah.
Penghargaan dari Inggris yang
diterima Gamal belum lama ini, menurutnya menjadi pemicu untuk lebih baik. Baru
masuk ke 7 besar, yang dari sana mendapat virtual learning programe,
oleh Universitas Cambrige selama satu bulan. Baru kemudian ke Inggris, di
sebuah universitas, lalu presentasi final di Unilever. Sekitar 511 kandidat
yang harus bersaing dengan Gamal di sana yang datang dari 90 negara. Gamal
berhasil meraih juara pertama. Untuk itu dia berhak atas hadiah 50 ribu Euro,
plus pelatihan-pelatihan untuk pengembangan gagasannya ini dan mentoring
Cambrige selama setahun. Dia juga mendapat gelar entreprenuer dari
Kerajaan Inggris.
Gamal (24 tahun),
wirausahawan muda asal Kota Malang, Jawa Timur meraih penghargaan “The Prince
of Wales Young Sustainability Entrepreneur” dari Pangeran Charles di Inggris,
menyisihkan 511 wirausaha peserta dari 90 negara.
Menurut Gamal, di London, 1
Februari 2014 lalu, penghargaan itu diumumkan Pangeran Charles dalam upacara di
Istana Buckingham bersama CEO Unilever, Paul Polman, dan Vice Canchellor dari
Universitas Cambridge, Professor Sir Leszek Borysiewicz di hadapan pemimpin
organisasi dan perusahaan internasional lainnya.
Gamal mengaku, dirinya terpilih
sebagai wirausahawan yang memberikan pelayanan kesehatan di masyarakat dengan
sistem Klinik Asuransi Sampah di Kota Malang.
Pangeran Charles, kata Gamal,
mengakui ide itu yang menangani dua masalah pada saat yang bersamaan, yaitu
sampah dan kesehatan, adalah hal yang luar biasa.
Penghargaan berupa The Prince of
Wales Young Sustainability Entrepreneur diterima Gamal setelah melalui seleksi
ketat dari tujuh finalis Unilever Sustainable Living Award di seluruh dunia
yaitu Anu Sridharan dari India, Blessing Mene dari Nigeria, Surya Karki dari
Nepal, Isabel Medem dari Peru, Curt Bowen dari Guatemala, dan Manuel Wichers
dari Meksiko.
Gamal memperoleh hadiah sebesar
50.000 Euro sebagai dukungan finansial dan paket mentoring dari
Universitas Cambridge yang dirancang secara individu.
Program penghargaan internasional
ini didesain untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia untuk menyelesaikan
isu lingkungan, sosial, dan kesehatan.
Kompetisi ini mengundang
wirausahawan yang berusia di 30 tahun ke bawah untuk memberikan solusi yang
menginspirasi, praktis dan jelas untuk membantu mewujudkan hidup berkelanjutan.
Gamal albinsaid memiliki optimisme tinggi dengan
keputusan yang diambil, berani mengambil resiko sebagai konsekuensi dalam
keberhasilan usahanya. Ia juga memiliki keinginan besar untuk sukses. Ia juga menggunakan
peluang dari masalah yang ada untuk membuat sebuah inovasi baru. Terbuka untuk
belajar hal yang baru . Bersifat responsif
dalam menghadapi persoalan-persoalan yang ada dan berdedikasi
tinggi dan fokus terhadap usaha yang dijalaninya.
(Ahmad Wildan)
NILUH DJELANTIK SANG DESAINER SEPATU TERNAMA
Ni luh
Djelantik, begitulah ia dikenal. Terlahir di Bali tanggal 15 Juni 1975 dengan
nama asli Ni Luh Putu Ary
Pertami. Putri dari pasangan Ni Nyoman Palmi dan Putu Djelantik ini
merupakan seorang desainer merek sepatu produk dalam negeri yang telah
berkiprah di industri mode dunia. Cinta Ni Luh Putu Ary Pertami Djelantik
terhadap sepatu, terutama hak tinggi alias high heels membuat karyanya mendapat
tempat istimewa. Ni luh memang menaruh perhatian lebih pada alas kaki karena Ni
luh kecil tak penah mendapat sepatu yang pas sebab ibunya selalu membelikan
sepatu dengan ukuran dua atau tiga kali lebih besar dari kakinya dan sepatu
Niluh mulai rusak atau berlubang saat ukuran mulai pas di kaki. Kesederhanaan
itulah yang membuat Niluh berangan-angan untuk memiliki sepatu yang pas di
kaki. Ni luh berasal dari keluarga yang sederhana dan broken home dan sejak
umur setahun ia ikut ibunya berjualan di Pasar Kintamani. Sebagai orangtua tunggal,
ibu Niluh berjuang agar bisa menyekolahkan putrinya di tempat terbaik.
Ni luh memiliki
hasrat membaca yang sangat besar, namun karena kehidupannya yang pas-pasan
ibunya tidak bisa membeli banyak buku untuk Ni Luh. Untungnya, tak jauh dari
kios tempat ibunya menggelar dagangan, ada sebuah toko buku. Sejak Ni luh bisa
membaca, ibunya menitipkannya di toko itu. Sambil bekerja menjaga kios, Niluh pun
bisa membaca buku sebanyak yang ia mau. Dengan keterbatasan pendidikan dan
waktu yang habis untuk bekerja, ibunya mengaku tidak dapat mengajarkan banyak
hal kepada Niluh. Setamat SMA, Niluh meneruskan pendidikan di Jakarta
sesuai dengan keinginan ibunya. Ia kuliah di manajemen keuangan Universitas
Gunadarma. Setahun di Jakarta, Niluh belajar mencari kerja agar bisa mandiri.
Pekerjaan pertamanya adalah operator telepon di sebuah perusahaan tekstil asal
Swiss tahun 1995. Mulai berpenghasilan, Niluh teringat hasratnya memiliki
sepatu yang pas di kaki. Gaji pertama yang didapat, ia langsung membeli sepatu
di kawasan Blok M, Jakarta. Sepatu bertumit tinggi menjadi pilihan karena Niluh
bekerja kantoran. Saat itu harga sepatu yang dibelinya sebesar Rp 15.000,
disesuaikan dengan kondisi keuangan Niluh saat itu. Namun, Sepatu pertamanya yang pas di kaki
tidak nyaman dipakai. Seiring membaiknya kondisi keuangan, Niluh
mampu mendapatkan sepatu impian yang nyaman di kaki dan pas di hati.
Akhir tahun 2001
Ni luh kembali ke Bali dan mendapatkan pekerjaan di perusahaan fashion Paul
Ropp milik pengusaha Amerika Serikat. Niluh dipercaya untuk memegang
kendali sebagai Direktur Marketing. Kerja kerasnya berbuah sukses, Paul Ropp
berkembang pesat. Di tahun pertama yakni 2002, penjualan naik hingga 330%.
Butik bertambah hingga 10 lokasi. Namun pada awal 2003 Pekerjaan marketing
harus ditinggalkan karena dalam rangka ekspansi perusahaan, harus
dikompensasikan Niluh dengan jam kerja yang panjang dan berpergian keluar
negeri setiap saat untuk melakukan trade show dan juga membuka pasar bagi
perusahaan tersebut, yang akhirnya membuat
Niluh jatuh sakit dan dokter meminta Niluh tak berpergian jauh sekurangnya
dalam waktu enam bulan. Padahal, profesinya menuntut Niluh untuk terbang ke
sejumlah negara. Yang pada akhirnya Niluh memutuskan untuk kembali ke Bali.
Niluh
benar-benar terobsesi oleh “kekurangan” dia di masa lalu dan ia memiliki prinsip bahwa tiap perempuan seharusnya bisa
memakai sepatu dengan tumit setinggi 12 cm dengan nyaman. Akhirnya niluh
memberanikan diri melahirkan produk sepatu bernama “NILOU” di kawasan Kerobokan
dengan berbekal modal Rp 33.000.000. Brand NILOU ini berasal dari slang
lafal Niluh di lidah bule dan peluang
pun tercipta karena Niluh bertemu Cedric Cador yang memang terbiasa memasarkan
produk Indonesia di Eropa. Koleksi pertama NILOU langsung booming di
Prancis, pesanan pun membanjir hingga
4.000 pasang. Pada 2004, Ni Luh mendapatkan kontrak outsource dari jaringan ritel Topshop yang
berpusat di Inggris. Pintu perdagangan ke Eropa kian terbuka lebar. Kemudian di
tahun yang sama, seorang perempuan berkewarganegaraan Australia berkunjung ke
gerai NILOU di kawasan Seminyak, Bali. Perempuan yang kemudian dikenal dengan
nama Sally Power ini mengaku terkesan dengan sepatu Nilou dan menawarkan diri
untuk menjadi distributor di Negaranya Australia.
NILOU semakin
tenar. Pada saat bersamaan, desainer-desainer internasional yang berproduksi
atau mencari inspirasi di Bali ikut memakai produk NILOU. Dari situlah Niluh
memulai hubungan profesional mendesainkan sepatu untuk perancang-perancang
busana dunia seperti Nicola Finetti, Shakuhachi, Tristanblair, dan Jessie Hill.
Di awal pendirian, Ni Luh membutuhkan
waktu hingga 2 bulan untuk menyelesaikan satu desain sepatu. Alokasi
waktu paling lama untuk berdiskusi dengan pengrajin. Biasanya, Niluh
menunjukkan sepatu mahal koleksinya ke tukang. “Niluh tanya ke mereka, bisa
nggak bikin yang lebih bagus dari ini,” kata penggemar alas kaki karya
Manolo Blahnik dan Christian Louboutin ini. Untuk membedakan dengan produsen sepatu lainnya, NILOU fokus ke pembuatan
sepatu dengan tumit antara 10 cm hingga 12 cm dengan memakai bahan baku yang kebanyakan dari kulit asli,
kuningan, kayu, hingga manik-manik. Di awal pendirian Niloh memiliki dua
karyawan dan hanya mampu memproduksi 3 pasang sepatu itupun hanya barang
pajangan. Setelah berkembang, Nilou memiliki kapasitas produksi hingga 200
pasang sepatu per bulan dan dibantu 22 karyawan dan 3 asisten kepercayaan. Nilou
telah membuka 36 butik di 20 negara, antara lain Australia, Amerika Serikat,
Prancis, Jepang, dan Uni Emirat Arab.
Di tengah kesuksesan, cobaan datang. Pada
2007, Niluh mendapat tawaran dari agen di Australia dan Prancis untuk
melebarkan sayap. Nilou diproduksi secara massal di Cina dengan iming-iming
sejumlah besar saham. Dengan tegas, Niluh menolak. Dia tak ingin cintanya yang
melekat setiap pasang sepatu yang dihasilkan dari workshopnya tergantikan oleh
mesin atas nama kapitalisme. Brand NILOU yang sudah mendunia ternyata sudah
didaftarkan pihak lain dan terpaksa Niluh membunuh brand NILOU. Kemudian di awal
2008, Niluh kembali membangun usahanya dengan mproduksi sepatu bermerek “Niluh
Djelantik”. Sebelum memulai dengan brand Niluh Djelantik, Niluh belum
memikirkan merek pengganti dan ia berkonsentrasi untuk membangun merek luar
dengan cara mendesain, mendevelopment, dan memproduksi, tetapi menyerahkan
modal ke merek tersebut. Agar tak terulang, brand Niluh Djelantik langsung
dipatenkan. Label baru ini bahkan telah menembus Globus Switzerland pada 2011,
yang merupakan salah satu retailer terkemuka di Eropa. Dan juga bekerja sama
dengan retailer terkemuka untuk membuka Niluh Djelantik di Rusia. Selain
memproduksi alas kaki yang siap jual Niluh juga membuat sepatu customize lewat
proses pengepasan ukuran kaki dibutiknya di Bali.
Dengan bantuan 15 perajin sepatu yang
semuanya berasal dari Bali, Niluh dapat memproduksi 200 pasang sepatu per
bulan. Kualitas produk yang tinggi serta menonjolkan eksklusivitas membuat
harga jual sepatu buatannya tergolong tidak murah. Untuk menghasilkan sepasang
sepatu, butuh waktu berkisar 2 hari hingga seminggu. Harga jualnya dibanderol
mulai Rp 1.400.000 hingga Rp 5.000.000 per pasang. Hingga kini niluh memiliki
tiga toko diantaranya Niluh Djelantik Outlet 144, Jalan Raya Kerobokan 80361
Bali, Niluh Djelantik Flagship Store 88 AB, Jalan Petitenget 80361 Bali dan
Niluh Djelantik Jakarta 74A Jalan Kemang Timur Raya 12730 Jakarta Selatan. Selain itu Niluh juga membuat online store di
www.niluhdjelantik.com semua koleksi Niluh Jelantik mulai dari
sepatu, sandal, tas, dompet, dan clutch dapat di lihat dan dipesan melalui
website ini. dan Niluh juga mempromosikan semua desainnya melalui akun facebook
pribadinya. Berbagai Penghargaan telah
diraih Niluh diantaranya Best Fashion Brand & Designer The Yak Awards in
2010, Dinominasikan sebagai Ernst & Young for Ernst & Young Entrepreneurial
Winning Women 2012 Awards.
Daftar
Pustaka:
https://indonesiaproud.wordpress.com/2012/11/19/niluh-djelantik-sepatu-lokal-yang-dipakai-selebritas-dunia/
Kenapa Ni Luh Djelantik disebut
sebagai entrepreneur?
Karena Ni Luh dapat merealisasikan mimpi
kecilnya menjadi usaha yang mendatangkan income dan dalam memulai usaha ini ia
berani mengambil resiko apapun yang ada untuk mengalahkan halangan demi
halangan menuju keberhasilannya. Di dalam melakukan usahanya ia selalu membuat
inovasi dalam setiap karya, berdedikasi tinggi dan fokus terhadap usaha yang
dijalaninya.
Karakter apa yang dimiliki?
• Sifat
kerja keras dan keyakinan diri
• Sifat
Pengambilan Resiko
• Sifat Prestatif
• Presumptuous
·
Transactional : Beberapa customer hanya melakukan pembelian di Niluh
Djelantik, kemudian putus saat itu juga. Namun ada juga yang tetap menjalin
kerjasama dengan Niluh Djelantik.
·
Automated Service : Customer tidak perlu ke toko dalam melakukan
pembelian, tetapi bisa di pesan juga melalui website.
Danti
Rahmawati
Ferry Unardi, Pendiri Situs Traveloka
Ferry Unardi, Pendiri Situs Traveloka
Industri e-commerce Travel
di Indonesia semakin berkembang, salah satu tokoh muda yang berjasa membawa
pengalaman baru travelling di Indonesia pada era modern ini
adalah Ferry Unardi, pendiri Traveloka.com;
sebuah situs online booking(tiket pesawat dan hotel) yang kini
menjadi salah satu situs terpopuler di bidangnya pada usia yang baru menginjak
3 tahun.
Lahir
di Padang, 16 Januari 1988, Ferry
Unardi sempat mengatakan kepada
partnernya bahwa usia 23 tahun (usia mereka kala itu) masih cukup muda untuk
membuat kesalahan. Pola pemikiran tersebut menjadikannya berani mengambil
risiko dan berinovasi memulai usaha.
Latar
Belakang Pendidikan
Ferry
Unardi menaruh minat pada dunia IT sejak remaja. Minat itu diteruskan dengan
melanjutkan kuliahnya di Purdue University. Tahun 2008, Ferry menyelesaikan
kuliah di jurusan Computer Science and Engineering.
Menyadari
bahwa dirinya masih belum mahir berbisnis, Ferry pun memutuskan untuk mendalami
pengetahuan bisnisnya dengan mengambil program MBA di Harvard University.
Setelah melalui berbagai pertimbangan matang, setelah satu semester Ferry
akhirnya meninggalkan kuliahnya tersebut. Sebuah keputusan yang malah
membawanya lebih sukses.
Tekad
dan ambisi Ferry membuat usaha sendiri begitu kuat. Ferry bahkan berani hijrah
ke Tingkok selama 6 bulan untuk belajar bahasa mandarin. Selagi belajar, ia
banyak memerhatikan perkembangan bisnis internet di Tingkok. Ferry terkesima
dengan bisnis model e-commerce di
negara tersebut, seperti Alibaba, Taobao, Ctrip, dan Qunar.
Selama
di negeri tirai bambu tersebut, Ferry mengamati kampanye marketing Qunar setiap
harinya. Dari sanalah Ferry terinspirasi untuk membangun Traveloka.
Cikal
Bakal Traveloka
Ferry
mengakui bahwa ia sama sekali tidak memandang dirinya sebagai seorangentrepreneur,
melainkan seorang engineer. Awalnya tak sedikitpun terbesit di
benaknya untuk membuat bisnis startup. Bahkan, selama 3 tahun
bekerja di Microsoft – Seattle, Ferry sempat khawatir tidak akan menjadi engineer terbaik.
Ide
membangun Traveloka didasari oleh kesulitan yang dihadapi Ferry Unardi selama
tinggal di Amerika. Kuliah di Boston, kerja di Seattle, dan berasal dari Padang
membuat Ferry sering bolak-balik menggunakan pesawat. Ferry pusing menentukan
rute perjalanan karena sulitnya mencari pesawat, terutama dari Indianapolis ke
Padang. Belum lagi dengan seringnya terjadi error saat hendak
memesan tiket di agen.
Pengalaman
yang cukup membebaninya itu menyebabkan Ferry berpikir “jika tidak ada layanan
yang menawarkan apa yang Anda butuhkan, maka buatlah sendiri”. Pemikiran itulah
yang juga menjadi cikal bakal Traveloka hadir. Pada usia 23 tahun itulah, Ferry
mengambil risiko untuk membangun bisnis sendiri.
Kesuksesan
bersama Traveloka
Ferry
Unardi kini berhasil membangun Traveloka bersama dua rekannya; Derianto Kusuma
dan Albert. Berdiri pada tahun 2012, Traveloka awalnya fokus sebagai situs
pencarian dan pembanding harga tiket pesawat.
Seiring
perkembangan, Ferry Unardi melihat kebutuhan lain dari para pengunjung
situsnya. Mereka membutuhkan cara untuk melakukan transaksi pemesanan tiket
pesawat secara lebih cepat dan praktis. Memasuki pertengahan 2013, Ferry Unardi
menjawab kebutuhan tersebut dengan mengubah Traveloka menjadi situs bookingonline tiket
pesawat.
Ferry
Unardi terus berusaha menyempurnakan bisnisnya dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Saat ini Traveloka.com juga melayani pemesanan online hotel.
Penerbangan dan hotel yang disediakan Traveloka mencakup kawasan di seluruh
Indonesia, Singapore, dan Malaysia, yang akan terus dikembangkan hingga cakupan
internasional.
Keberhasilan
tersebut juga tak lepas dari ketekunan Ferry Unardi untuk terus belajar
berbisnis. Tak hanya fokus pada IT dan mengejar traffic web,
Ferry juga berhasil membangun tim yang solid. Berbekal inspirasi dari
buku “The
Hard Thing about Hard Things” karya
Ben Horowitz (veteran startup), Ferry berhasil mengembangkan timnya
di Traveloka dari awalnya hanya 5 orang menjadi 20, 30, hingga kini mencapai
200 orang lebih.
Kerjasama Traveloka dengan
Maskapai penerbangan dan partner pembayaran
Traveloka Sekarang
Kini,
Traveloka telah berkembang dari tim kecil menjadi sebuah perusahaan. Website
yang memiliki peringkat Alexa 90 (Juni 2015) di Indonesia ini memiliki puluhan
juta pageview per bulan. Traveloka juga memiliki aplikasi
untuk pengguna smartphone.
Kini,
Traveloka telah berkembang dari tim kecil menjadi sebuah perusahaan. Website
yang memiliki peringkat Alexa 90 (Juni 2015) di Indonesia ini memiliki puluhan
juta pageview per bulan. Traveloka juga memiliki aplikasi
untuk pengguna smartphone.
Mengapa
Ferry Unardi disebut sebagai seorang Entrepreneur?
} Memiliki
optimisme tinggi dengan keputusan yang diambil, berani mengambil resiko
sebagai konsekuensi dalam keberhasilan usahanya.
} Memiliki
keinginan besar untuk sukses
} Menggunakan
peluang dari masalah yang ada untuk membuat sebuah inovasi baru
} Terbuka
untuk belajar hal yang baru
} Bersifat responsif dalam menghadapi persoalan-persoalan
yang ada
} berdedikasi
tinggi dan fokus terhadap usaha yang dijalaninya
Karakter
apa saja yang dimiliki?
} Pengambilan
resiko
} Inovatif
} Keyakinan
diri
} kerja
keras
} Sifat
prestatif
Business Model Canvas (BMC)
Traveloka
(Adisti Bestari)
“DIAN PELANGI“
Namaaslidari Dian
Pelangiadalah Dian WahyuUtami, iamerupakansalahsatuperancangbusanakelasatas di
Indonesia. Dian Pelangiadalahdesainerutama Dian Pelangi Company,
salahsatuperusahaanbusanamuslimterkemuka di Indonesia. Lahir di Palembang
padatahun 1991.
Pendidikan Dian Pelangiyaitu:
ò TK IkalDolog di Palembag
ò SD MI 2 di Palembang,
ò SMP InsanKamil, Ponpes
Al-Ihya Bogor
ò SMK Negeri 1 Pekalongan
ò EcoleSuperieur des Arts et
Techniques de la Mode (ESMOD) dan lulus dengannilai cum laude
Padamulanyabisnis
di bidangbusana yang diembannyadidirikanolehkedua orang tua Dian padatahun 1991
yang jugamerupakantahunkelahiran Dian. Ada tebersit di
dalampikiranibundadanayahandanyabahwabisnisinisebaiknyadiberinama Dian
sebabusahainikelakakanditeruskanolehnyasaatdewasa.
Karenabusananyasebagianbesarmenggunakanteknik “jumputan”
yakniteknikwarna-warnikhas Palembang yang istilahlainnyaadalahPelangi,
makaistilahPelangidiambiluntukmelengkapinamabisnisinimenjadi Dian Pelangi.
Walaupun
model kain yang dihasilkantermasukkategori modern, nilai rasa khastradisional
Indonesia pun tidakserta-mertadilupakanbegitusaja.Jikaditelisiklebihlanjut,
detilkainrancangan Dian Pelangiinikentalakancorak batik dansongket.
GabunganinisengajamenjadipilihankarenasehubunganayahandaketurunanPekalongandanibundaketurunan
Palembang.
Seiringdenganberjalannyawaktu,
Dian yang sudah lulus darisekolah fashion ESMOD ketikaberumur 18
tahunsudahmampumenjadiperancangutama (main designer) di butik Dian Pelangi.
Karenamemilikijiwaanakmuda, fresh, dan colorful, Dian
diterimamenjadianggotaAsosiasiPerancangPengusahaMuda Indonesia dandipilihdalam
Jakarta Fashion Week 2009.Di sinilahcikalbakal Dian Pelangidikenalolehbanyak
orang.
Untukmeningkatkankesadaran
orang banyakakannama Dian Pelangi, wanita yang bernamalengkap Dian
WahyuUtamiinibersama-samadengansuamidan orang
tuanyasenantiasamenjalinsilaturahimdenganpemerintahnegara Indonesia
khususnyakepadaKementerianPariwisatadanEkonomiKreatif (Kemenparekraf) RI, Dian
Pelangiseringmendapattawarandanajakanuntukmemamerkankaryanya di
luarnegarasepertiPrancis, Qatar, Sudan, Jordan, Malaysia, Singapura,
danmasihbanyaklagi. Bahkantanggal 26 September 2014 nanti Dian
diundungdalamacara DC Fashion Week di Washington DC yang
masihadakaitannyadenganacarasebelumnyayaknipemilihanbakatbekerjasamadengansalahsatu
media swasta di Indonesia.
Dian
Pelangisaatinisudahmemiliki 16 cabang yang tersebar di Indonesia termasuk 1
cabangnyaberada di
Malaysia.Untukdapatmengembangkandanmempertahankanprestasibisnisnya, Dian
Pelangimemilikitimmuda yang kreatif, giat, dansungguh-sungguh. Banyakupaya yang
adadalamusahaini di antaranyapertamaupaya agar Dian
Pelangimenjadipemimpindalambisnisbusanamuslimdengansyarat model yang unik/
khassehinggasetiap orang yang melihatkaryanyaakanotomatisterucap “Inipasti
fashion Dian Pelangi”. Kedua,
bisnisnyaikutmendukungmelestarikanwarisansenitradisional Indonesia.Hal
initampakbetuldaricorak batik, jumputan, dansongket di
setiaprancangannya.Ketiga, memperluasjaringanpemasarandenganmemanfaatkan media
sosialseperti Facebook, Twitter, danInstagram yang
selamainiterbuktilangsungbersentuhandengankhalayakramai.Media
sosialjugadijadikanoleh Dian
Pelangisebagaijembatanuntukmemahamiaspirasisepertikritikdan saran
dariparapeminatbusana Dian Pelangi.Dan yang terakhiradalahpengelolaankeuanganusahasecaratepatuntukmeminimalisasikesalahansekaligusefisiensiwaktudalammengambilkeputusanbisnis.
Dari uraian di
ataskitabisaambilpelajaranberhargasekaligusmenjadiinspirasikesuksesanuntukkitasepertiberikutini:
1.
Menjadipengusahatidakharusselalumemilikiumur
yang matang (mature) tetapi yang diperlukanadalahkemampuandankesungguhan yang
terus-menerusdalammerintisusaha.
2.
Kerjakompakdalamtimharusselaluditerapkan.
Ingatpepatahberatsamadipikul, ringansamadijinjing.
3.
Selalujalinjaringankerja
(network) denganpihakluaruntukmelakukankerjasama, penajaan (sponsorship), dll.
4.
Buatseunikmungkinkaryamusehingga
orang lainakanotomatistersadarbahwaapa yang merekalihatadalahkaryamu.
5.
Manfaatkaninternetuntukmenembuspangsapasar
yang lebihluas. Media sosialmenjadialatampuhdalamperluasanpemasaransekaligussebagaialatuntukmelihatlangsungaspirasipelanggan.
Dian Pelangidisebutsebagai Entrepreneur karena :
-
Karenaiamemilikibakatsebagaidesainer yang menurundariorangtuanya yang
kemudianiakembangkansayapbutikdianpelangidanjugadenganbanyaknyaprestasi yang
sudahiaraihsebagaiseorang entrepreneur dandesainer.
-
Dian
Pelangisangatgigihuntukbelajardanmencobamengenalkanproduknyakepadamasyarakatmancanegaradantaklupaiatakmelupakancirikhaskaryanya
yang tidakdimilikiolehdesainer lain denganteknikjumputannya.
Karakteristik Entrepreneur yang dimilikiolehDian Pelangi
:
Kesamaansayadengan Dian
Pelangiadalahsayajugamemilikitekad yang samaseperti Dian
Pelangiuntukmelanjutkandanmemperluasusaha yang dimilikiolehorangtuasaya agar
kelakdapatberkembangmenjadilebihbaikdarisekarang.
(Putri Sekar Melati)
Langganan:
Postingan (Atom)















