Dissa Syakina Ahdanisa


Dissa Syakina Ahdanisa adalah seoraang gadis berumur 25 tahun alumnus Universitas New South Wales, Australiajurusan perbankan. Dissa adalah anak sulung dari empat bersaudara.

Walau mendalami bidang perbankan, Dissa tidak terjun dibidang bank namun pada Mei 2015, Dissa mendirikan Finger Talk Cafe. Sebuah kafe di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan memberikan konsep yang unik dan berbeda bagi penikmat kuliner. Seluruh pegawainya mulai dari pramusaji, juru masak hingga kasir adalah seorang pengidap tunarungu.

Semua ini bermula dari keinginan Dissa yang ingin mengikuti jejak sang ibu untuk bisa membantu kaum tunarungu.Dissa ingin mewujudkan impian untuk bisa membangun ”sesuatu” bagi para deaf atau tunarungu.

Dissa mengungkapkan, keinginan itu sempat redup karena minimnya pengetahuan bisnis. Tak punya koneksi dengan komunitas deaf juga membuat dia susah untuk diterima pada awalnya. Namun rasa sosial itu muncul kembali saat dia menjadi sukarelawan di Nikaragua, Amerika Tengah, pada 2004. Di sana dia menemukan sebuah kafe dengan seluruh pekerjanya adalah seorang tunarungu dengan pemilik hearing (seorang normal yang mengerti dan bisa bahasa isyarat). Pemilik kafe itu adalah seorang  lelaki asal Spanyol—Tio Antonio, ia memberi nama kafe tersebut Café de la Sonrisas. Terinspirasi dengan Café de la Sonrisas, Dissa ingin membawa pengalamannya ke tanah air dan memberikan kesempatan yang sama bagi penyandang tunarungu di Indonesia.

Setelah kembali ke Indonesia, Dissa dikenalkan dengan seorang deaf, Pat Sulistyowati, 65, pada 2014. Pat menyambut baik Dissa dan langsung menyanggupi untuk membantu. Pat adalah guru keterampilan. Dia membuka les jahit di rumahnya khusus untuk tunarungu.

Dengan bantuan tersebut, ternyata jalan Dissa untuk menembus komunitas deaf tidak semulus dugaan awal. Dissa harus menunggu hingga lima bulan, sejak Desember 2014, untuk bisa bertemu dengan seluruh karyawannya saat ini. Mereka satu per satu harus didekati dengan cara khusus untuk menyampaikan maksud Dissa. Usaha tersebut pun membuahkan hasil. Sekarang secara total ada empat pegawai tunarungu yang bekerja di Finger Talk Café. Nurul (20) sang pramusaji dari Bandung, Friska (25) asal Bali sebagai juru masak, Wawan (27) di posisi kasir asal Jember, dan Sari (30) juru masak asal Pamulang.

Setelah Dissa berhasil merekrut para tunarungu, perjuangan tidak serta-merta berhenti. Dia harus belajar agar dapat menemukan pola kerja sama yang pas dengan pekerjanya. Sebab, mereka dinilai memiliki perasaan yang lebih sensitif ketimbang karyawan yang normal.

Saat tidak nyaman dalam suatu keadaan, misalnya, raut wajah mereka akan langsung jelas menggambarkan hal tersebut. Untung, sebelum memutuskan terjun dalam dunia bisnis itu, Dissa belajar dari Pat. Dia belajar bahasa istyarat, memahami sifat-sifat mereka, serta cara berkomunikasi dengan baik kepada mereka.


·         Mengapa Beliau saya anggap sebagai Entrepreneur karena Belian memiliki tekad yang kuat untuk membawa konsep baru dalam bidang bisnis kuliner dan sosial yang pastilah tak mudah.
·         Beliau memiliki karakter yang gigih dan tidak mudah menyerah walau kesuliatan banyak dihadapi disepanjang perjalanannya. Beliau juga fokus dalam impiannya.
·         Beliau memberikan motivasi tinggi bahwa sebuah bisnis tak harus selalu tertuju pada keuntungan namun bisa dibarengi dengan tindakan sosial kepada sesama yang membutuhkan .(Sabrina Ika) 

(





READMORE
 

Bob Sadino

Beliau bernama lengkap Bob Sadino. Lahir di Lampung, tanggal 9 Maret 1933, wafat pada tanggal 19 Januari 2015. Beliau akrab dipanggil dengan sebutan 'om Bob'. Ia adalah seorang pengusaha asal Indonesia yang berbisnis di bidang pangan dan peternakan.Ia adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick. Dalam banyak kesempatan, ia sering terlihat menggunakan kemeja lengan pendek dan celana pendek yang menjadi cirri khasnya. Bob Sadino lahir dari sebuah keluarga yang hidup berkecukupan. Ia adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Sewaktu orang tuanya meninggal, Bob yang ketika itu berumur 19 tahun mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Bob kemudian menghabiskan sebagian hartanya untuk berkeliling dunia. Dalam perjalanannya itu, ia singgah di Belanda dan menetap selama kurang lebih 9 tahun. Di sana, ia bekerja di Djakarta Lylod di kota Amsterdam dan juga di Hamburg, Jerman. Ketika tinggal di Belanda itu, Bob bertemu dengan pasangan hidupnya, Soelami Soejoed. Pada tahun 1967, Bob dan keluarga kembali ke Indonesia. Ia membawa serta 2 Mercedes miliknya, buatan tahun 1960-an. Salah satunya ia jual untuk membeli sebidang tanah di Kemang, Jakarta Selatan sementara yang lain tetap ia simpan. Setelah beberapa lama tinggal dan hidup di Indonesia, Bob memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya karena ia memiliki tekad untuk bekerja secara mandiri. Pekerjaan pertama yang dilakoninya setelah keluar dari perusahaan adalah menyewakan mobil Mercedes yang ia miliki, iasendiri yang menjadi sopirnya. Namun sayang, suatu ketika ia mendapatkan kecelakaan yang mengakibatkan mobilnya rusak parah.
     
Karena tak punya uang untuk memperbaikinya, Bob beralih pekerjaan menjadi tukang batu. Gajinya ketika itu hanya Rp.100. Ia pun sempat mengalami depresi akibat tekanan hidup yang dialaminya. Suatuhari, temannya menyarankan Bob memelihara ayam untuk melawan depresi yang dialaminya. Bob tertarik. Ketika beternak ayam itulah muncul inspirasi berwirausaha. Bob memperhatikan kehidupan ayam-ayam ternaknya. Ia mendapat ilham, ayam saja bisa berjuang untuk hidup, tentu manusia pun juga bisa. Sebagai peternak ayam, Bob dan istrinya, setiap hari menjual beberapa kilogram telor. Dalam tempo satu setengah tahun, ia dan istrinya memiliki banyak langganan, terutama orang asing, karena mereka fasih berbahasa Inggris. Bob dan istrinya tinggal di kawasan Kemang, Jakarta, di mana terdapat banyak menetap orang asing. Tidak jarang pasangan tersebut dimaki pelanggan, babu orang asing sekalipun. Namun mereka mengaca pada diri sendiri, memperbaiki pelayanan. Perubahan drastis pun terjadi pada diri Bob, dari pribadi feudal menjadi pelayan. Setelah itu, lama kelamaan Bob yang berambut perak, menjadi pemilik tunggal super market (pasarswalayan) Kem Chicks.

Ia selalu tampil sederhana dengan kemeja lengan pendek dan celana pendek. Bisnis pasar swalayan Bob berkembang pesat, merambah keagribisnis, khususnya holtikutura, mengelola kebun-kebun sayur mayor untuk konsumsi orang asing di Indonesia. Karena itu ia juga menjalin kerjasama dengan para petani di beberapa daerah. Bob percaya bahwa setiap langkah sukses selalu diawali kegagalan demi kegagalan. Perjalanan wirausaha tidak semulus yang dikira. Ia dan istrinya sering jungkir balik. Baginya uang bukan yang nomor satu. Yang penting kemauan, komitmen, berani mencari dan menangkap peluang. Di saat melakukan sesuatu pikiran seseorang berkembang, rencana tidak harus selalu baku dan kaku, yang ada pada diri seseorang adalah pengembangan dari apa yang telah ia lakukan. Kelemahan banyak orang, terlalu banyak mikir untuk membuat rencana sehingga ia tidak segera melangkah. “Yang paling penting tindakan,” kata Bob. Keberhasilan Bob tidak terlepas dari ketidaktahuannya sehingga ia langsung terjun kelapangan. Setelah jatuh bangun, Bob trampil dan menguasai bidangnya.

Proses keberhasilan Bob berbeda dengan kelaziman, mestinya dimulai dari ilmu, kemudian praktik, lalu menjadi trampil dan profesional. Menurut Bob, banyak orang yang memulai dari ilmu, berpikir dan bertindak serba canggih, arogan, karena merasa memiliki ilmu yang melebihi orang lain. Sedangkan Bob selalu luwes terhadap pelanggan, mau mendengarkan saran dan keluhan pelanggan. Dengan sikap seperti itu Bob meraihsimpati pelanggan dan mampu menciptakan pasar. Menurut Bob, kepuasan pelanggan akan menciptakan kepuasan diri sendiri. Karena itu ia selalu berusaha melayani pelanggan sebaik-baiknya. Bob menempatkanperusahaannyasepertisebuahkeluarga. SemuaanggotakeluargaKem Chicks harussalingmenghargai, tidakada yang utama, semuanyapunyafungsidankekuatan. Seoranganak guru kembaliketanah air tahun 1967, setelahbertahun-tahun di Eropadenganpekerjaanterakhirsebagaikaryawan Djakarta Lloyd di Amsterdam dan Hamburg, Bob, anakbungsudari lima bersaudara, hanyapunyasatutekad, bekerjamandiri. Ayahnya, Sadino, pria Solo yang jadi guru kepala di SMP dan SMA Tanjungkarang, meninggalduniaketika Bob berusia 19. Modal yang iabawadariEropa, dua sedan Mercedes buatantahun 1960-an. Satuiajualuntukmembelisebidangtanah di Kemang, Jakarta Selatan. Ketikaitu, kawasanKemangsepi, masihterhamparsawahdankebun.

Sedangkanmobilsatunyalagiditaksikan,Bobsendirisopirnya. Suatu kali, mobilitudisewakan. Ternyata, bukanuang yang kembali, tetapiberitakecelakaan yang menghancurkanmobilnya. ”Hatisayaikuthancur,” kata Bob. Kehilangansumberpenghasilan, Bob lantasbekerjajadikulibangunan. Padahal, kalauiamau, istrinya, SoelamiSoejoed, yang berpengalamansebagaisekretaris di luarnegeri, bisamenyelamatkankeadaan. Tetapi, Bob bersikeras, ”Sayalahkepalakeluarga. Saya yang harusmencarinafkah.” Untukmenenangkanpikiran, Bob menerimapemberian 50 ekorayamrasdarikenalannya, Sri MulyonoHerlambang. Dari sini Bob menanjak: IaberhasilmenjadipemiliktunggalKem Chicks danpengusahaperladangansayursistemhidroponik. LaluadaKem Food, pabrikpengolahandaging di Pulogadung, dansebuah ”warung” shaslik di Blok M, KebayoranBaru, Jakarta. Catatanawal 1985 menunjukkan, rata-rata per bulanperusahaan Bob menjual 40 sampai 50 ton dagingsegar, 60 sampai 70 ton dagingolahan, dan 100 ton sayuransegar. ”Sayahidupdarifantasi,” kata Bob menggambarkankeberhasilanusahanya. Ayah duaanakinilalumembericontohsatuhasilfantasinya, bisamenjualkangkungRp 1.000 per kilogram. ”Di mana puntidakada orang jualkangkungdenganhargasegitu,” kata Bob. Om Bob, panggilanakrabbagianakbuahnya, tidakmaubergerak di luarbisnismakanan. Baginya, bidang yang ditekuninyasekarangtidakadahabis-habisnya. Karenaituiatakinginberkhayal yang macam-macam.

Haji yang berpenampilannyentrikini, penggemarberatmusikklasikdan jazz. Saat-saat yang paling indahbaginya, ketikashalatbersamaistridanduaanaknya. MeninggalDuniasetelahsempatdirawatselamaduabulan, pengusahanyentrik Bob Sadinoakhirnyamenghembuskannapasterakhirnya di RumahSakitPondok Indah Jakarta padahariSenin, tanggal 19 januari 2015 setelahberjuangdenganpenyakitnyayaituinfeksisaluranpernafasankronis. Bob Sadinodikatakansudahtaksadardalam 2-3 minggu. Penyakitnyaterkaitdenganusianya yang sudahlanjutsertakondisinya yang makinmenurunsetelahistrinyameninggalduniapadaJuli 2014.
(Sandy M Qalby)
READMORE
 

BIOGRAFI HARLAND SANDERS


         Kerap disapa Colonel Sanders, namun beliau bukanlah seorang Kolonel. Colonel Sanders adalah seorang colonel, tapi bukan colonel di angkatan militer melainkan Colonel dalam bucket ayam goreng. Asal Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. Julukan Colonel diberikan oleh Commonwealth kota Kentucky sebagai bentuk penghormatan atas kesuksesan bisnis yang didirikannya pada tahun 1930-an. 

            Ayahnya meninggal pada saat Sanders berusia 5 tahun. Sang ibu menikah kembali dengan seorang pria kasar, Sanders terpaksa harus pindah untuk menjauhi ayah tirinya. Dia bekerja di sawah saat baru berusia sepuluh tahun dengan upah dua dolar setiap bulan. Dia juga pernah bergabung menjadi tim pemadam kebakaran kereta api. Pada masa – masa itu juga, Harland Sanders belajar hukum melalui koresponden. Akhirnya Sanders pun mendapatkan gerlar Sarjana Hukum, kemudian memutuskan untuk bekerja di sebuah institusi.

            Sebelum akhirnya Sanders mencoba mendirikan bisnisnya sendiri, Sanders pernah bekerja sebagai salesman perusahaan Michellin Tire di Kentucky. Namun tahun 1924 Michellin Tire menutup perusahaannya, dan akhirnya Sanders kehilangan pekerjaanya lagi. Namun manajer umum Standars Oil Kentucky memberikan penawaran kepada Sanders untuk menjalankan stasiun pengisian bahan bakar di Nicolasville. Dalam benaknya bergejolak keinginan untuk mendirikan sebuah rumah makan. Rumah makan tersebut melahirkan sebuah gebrakan dalam menyajikan menu makanan tercepat.
            Tahun 1930 stasiun pengisian bahan bakar tersebut ditutup karena bangkrut, Sanders dipindahkan ke stasiun pengisian bahan bakar di North Corbin. Harland Sanders membuka sebuah stand untuk servis mobil di Corbin, Kentucky. Disini Sanders memulai bisnisnya menjual ayam goreng dan steak. Sewa tempat gratis namun sebagai imbalannya, beberapa persen keuntungan yang didapat dari bisnisnya dibagikan ke pihak pemilik tempat.
            Usaha Harland Sanders semakin berkembang. Rumah makannya kini dipenuhi 142 orang. Mengingat cintanya terhadap pengembangan dan pendidikan yang terus menerus dalam hal apa pun, akhirnya Harland Sanders mengikuti sebuah pelatihan tentang manajemen rumah makan dan hotel selama delapan minggu di Universitas Cornell.
            Harland Sanders sangat suka ayam goreng, hanya saja tidak memakai cara klasik, yaitu dengan memakai minyak yang tidak bisa menghasilkan rasa seperti yang diinginkannya. Pada tahun 1939, Harland Sanders menemukan cara jitu untuk menggoreng ayam. Salah satu hal yang membantu penemuan barunya tersebut adalah penemuan pressure cooker atau panci bertekanan yang dapat menghasilkan ayam lezat dan segar dalam waktu sepuluh detik dengan cara dikukus di atas uap, tanpa menghilangkan rasa dan bau serta tidak menggunakan minyak. Setiap tahun, Harland Sanders selalu melakukan percobaan hingga menemukan resep spesial yang terdiri dari rempah – rempah dan bumbu – bumbu.           
            Pada tahun 1949, Harland Sanders menerima pangkat kolonel berkat keberhasilannya di wilayah Kentucky. Akan tetapi, Harland Sanders lebih suka dipanggil businessman.  Pada tahun 1952 Sanders bertemu dengan Pete Harman di Utah dan akhirnya bersama-sama mendirikan bisnis Kentucky Fried Chicken, yang merupakan restoran pertama di dunia yang menggunakan nama tersebut.  Pada tahun 1953, Harland Sanders mendapat tawaran untuk menjual rumah makannya dengan harga $164. Meski jumlah ini sangat menggiurkan, akan tetapi Harland Sanders menolaknya. Selang beberapa tahun, tata letak kota Kentucky mengalami perubahan, sehingga rumah makannya tidak lagi strategis dan menarik pengunjung.
            Meski dengan kondisi jiwa yang remuk, akan tetapi Harland Sanders tidak menyerah. Harland Sanders menjual ayam ala KFC ke rumah makan di wilayah Outta. Hal ini memotivasi dirinya untuk menandatangani kontrak dengan beberapa rumah makan lainnya.  Saat itu, dia mengambil empat sen untuk setiap ayam yang terjual. Harland Sanders turun ke pasar – pasar untuk mempromosikan ide penjualan ayam KFC-nya, meski sudah tua dan terserang penyakit rematik.
            Setelah seluruh bisnisnya dijual, Sanders melakukan perjalanan ke seluruh negara dan mengunjungi restoran yang berbeda-beda.  Ketika usia kolonel Harland Sanders menginjak usia 70 tahun, jumlah rumah makan yang menjadi bagian dari franchise KFC-nya mencapai 200 tempat, di USA dan Kanada.         Tahun 1964 bisnis tersebut sukses besar, namun Sanders tidak mampu menjalankan bisnisnya akhirnya bisnis tersebut dijual kepada grup investor Jhon Brown Junior dan seorang milyuner Jack Mass seharga 2 juta USD dan 40.000 USD untuk gaji pekerja tiap bulannya.
            Pada tahun 1963, jumlah rumah makan yang berada di bawah franchise KFC-nya mencapai enam 600jt tempat. Jumlah tersebut terlalu banyak dan tidak mungkin dia memikulnya sendiri.  Oleh karena itu, Harland Sanders memutuskan untuk menjual bisnis waralaba KFC-nya kepada Jhon Brown Junior dan seorang milyuner Jack Mass seharga satu juta dolar. Selain lain itu, darinya Sanders juga mendapat gaji setiap bulan seumur hidup sebesar empat puluh ribu dolar (kemudian mengalami kenaikan menjadi tujuh puluh lima ribu dolar) sebagai ganti dari peranannya sebagai konsultan, iklan yang telah dia publikasikan, dan jabatannya sebagai direktur utama perusahaan.
            Membuat Bisnis Restoran Baru Sanders merasa tidak menyukai lagi menu makanan KFC setelah lepas dari tangannya. Akhirnya Sander membuka restoran baru sebagai pesaing KFC dengan nama The Colonel Lady. Merasa bisnis baru Sanders tersebut sebagai plagiat akhirnya pihak pemilik KFC menggugat Sanders dan memenangkan kasus tersebut, Sanders membayar denda sebesar 1 juta USD kepada pihak KFC.
            Colonel Sanders lahir pada 9 september 1890 di Henryville, Indiana, Amerika Serikat. Pada Juni tahun 1980 Sanders didiagnosa mengidap penyakit leukemia akut dan komplikasi radang paru-paru. Sanders kemudian meninggal pada 16 desember 1980 di Jewish Hospital Louisville dalam usia 90 tahun.
            “Impian meraih sukses tidak harus di masa kecil. Impian bisa juga di saat usia senja.” Kolonel Sanders, pendiri KFC
Catatan Khusus :
            Pesan dan moral yang bisa diteladani dari Kolonel Sanders adalah umur bukan halangan untuk terus berjuang. Sukses itu bukan mimpi, tapi proses harus dijalani. Tanpa proses dan ketekunan tidak akan bisa meraih kesuksesan. So, Jangan menyerah!
            Tampilkan ciri khas dalam setiap pesan yang disampaikan kepada publik, itulah yang dilakukan Kolonel Sanders dalam mencitrakan diri dalam berpakaian, unik adalah harus dalam setiap hal termasuk dalam diri sendiri atau usaha.
Mengapa Colonel Sanders disebut sebagai entrepreneur?
  1. Memiliki keinginan besar untuk sukses
  2. Memiliki motivasi untuk jauh lebih baik
  3. Memiliki inovasi dan kreatifitas untuk menciptakan suatu hal yang baru
  4. Tidak pernah takut untuk mencoba suatu hal yang baru
  5. Pantang menyerah walau sudah berkali-kali jatuh
  6. Optimis
  7. Purposeful

    (Rias Sanubari)
READMORE
 

Profil Jan Koum: Pendiri WhatsApp, Anak Desa Imigran Ukraina




Nilai Akuisisi Luar Biasa
Tiba-tiba, mungkin itulah kata paling pas untuk menggambarkan keadaan WhatsApp, platform sosial media yang diakusisi oleh Facebook. Tidak tanggung-tanggung nilai akusisi mencapai Rp 220 trilyun. Apa yang membuat WhatsApp begitu seksi, sehingga Facebook rela merogoh kocek dalam-dalam untuk memiliki aplikasi instant messaging yang penggunanya sudah lebih dari 400 juta orang itu?
Dari Gelandangan Sampai Office Boy
Di Amerika jangan kira hidupnya serba mudah. Hanya bermodal subsidi pemerintah, jatah makan pun dari pemerintah setempat. Setiap hari ia mengantri bersama warga penerima subsidi lain, agar mendapat makanan gratis. Hidup bertapkan langit beralaskan tanah, kira-kira itu gambaran kehidupan Jan Koum saat itu.
Untuk menyambung hidup dan memiliki penghasilan, Jan Koum bekerja sebagai tukang bersih-bersih supermarket, alias office boy. Ditengah kesulitan yang dialaminya, ibunya didiagnosa kanker. Jan Koum pantang menyerah. Sambil mencari penghasilan, ia memutuskan mengambil kuliah di San Jose University. Ditengah jalan ia drop out karena lebih senang belajar programming, ilmu yang sesuai passionnya, secara otodidak.
Nekat Masuk Yahoo
Semakin hari kemampuan Jan Koum meningkat. Dengan keahliannya, Jan Koum memutuskan untuk melamar kerja di Yahoo. Tanpa modal ijasah karena ia drop out. Ternyata ia diterima kerja di Yahoo. Jan Koum diposisikan sebagai engineer. Ia bekerja di yahoo selama 10 tahun. Di Yahoo ia semakin berkembang, karena bekerja di bidang yang sesuai dengan passionnya. Di Yahoo juga ia bertemu kawan yang kelak menjadi partnernya dalam membangun WhatsApp, Brian Action.
Sukses Di WhatsApp Tetap Rendah Hati
Kini, WhatsApp menjelma menjadi aplikasi messaging dengan pengguna terbanyak di dunia (selain Blackberry Messenger dan Facebook), bahkan jumlah penggunanya mengalahkan twitter. Facebook pun secara resmi mengakuisisi perusahaan milik Jan Koum dengan nilai pembelian Rp 220 Trilyun.


Jan Koum yang kini telah sukses mendatangi tempat dimana ia pernah hidup menjadi gelandangan dulu. Ia kemudian mendatangi lokasi antrian, dimana ia menunggu mendapat jatah makan gratis dari pemerintah. Ia termenung, menangis, tak menyangka perusahaannya akan dibeli dengan nilai sebesar itu.

Jan Koum mengenang ibunya, yang kini telah meningal karena kanker. Ibunya menjahitkan pakaian untuknya karena menghemat uang. Ia teringat kata-kata ibunya saat memberikan baju hasil jahitannya, "Tidak ada uang Nak".

Jan Koum membuktikan dengan pantang menyerah, doa, mengikuti kata hati, ia mampu meraih kesuksesan yang tak ternilai harganya. Ia mampu terus berjuang, bahkan dari seorang gelandangan kini menjadi bilyuner. Tidak ada putus asa, pantang menyerah, berani ikuti kata hati. 
Pindah Dari Yahoo, Tapi Ditolak Perusahaan Sebelah
Tahun 2009 Jan Koum dan Brian Action mengundurkan diri dari Yahoo. Keluar dari Yahoo, mereka melamar kerja ke perusahaan lain yang tengah naik daun, yaitu Facebook. Dengan spirit yang sama, untuk belajar dan berkembang. Namun facebook menolak lamaran kerja mereka. Boleh jadi sekarang facebook menyesal dulu menolak lamaran kerja Jan Koum dan Brian Action. Ditolak Facebook, mereka mulai memutuskan mulai merancang aplikasi yang kini menjadi aplikasi paling fenomenal, WhatsApp.
(Rasheed Hamas)


READMORE
 

NADIEM MAKARIM - LULUSAN HARVARD MENJADI JURAGAN GO-JEK

NADIEM MAKARIM
LULUSAN HARVARD MENJADI JURAGAN GO-JEK


Siapa yang tidak mengenal Go-Jek saat ini, dimana Go-Jek sangat diandalkan oleh para karyawan kantor sampai pelajar. Saya sendiri merasa sangat terbantu dengan adanya Go-Jek di tengah kota padat Jakarta, dengan mudahnya saya berkumpul dengan teman lama di tempat yang belum pernah saya kunjungin sebelumnya. Ya!! Hanya dengan klik ini itu ojek pun datang untuk mengantarkan kita ke tempat tujuan.



“Life begins at the end of your Comfort Zone” – Neale Donald Walsch
Seperti kutipan kata di atas, Nadiem Makarim adalah salah satu dari banyak orang yang keluar dari zona nyamannya.

Bagaimana tidak, diketahui bahwa Nadiem Makarim yang lahir pada 4 juli 1984 ini mulai bersekolah SD di Jakarta, kemudian ia lulus SMA di Singapura, dari Singapura ia kemudian melanjutkan pendidikannya di jurusan International Relations di Brown University, Amerika Serikat. dan selama setahun ia mengikuti program foreign exchange di London School of Economics. Ia juga melanjutkan studinya di Harvard Business School, Harvard University dan lulus dengan menyandang gelar MBA (Master Business Of Administration). Nadiem Makarim diketahui pernah bekerja di sebuah perusahaan Mckinsey & Company sebuah konsultan ternama di Jakarta dan menghabiskan masa selama tiga tahun bekerja disana. Diketahui pula ia pernah bekerja sebagai Co-founder dan Managing Editor di Zalora Indonesia kemudian menjadi Chief Innovation officer kartuku.
Dengan mobilitas tinggi, ia lebih memilih ojek ketimbang mobil pribadi untuk menjalani kegiatan sehari-harinya. Bahkan ia hampir 5 kali sehari naik ojek. Nadiem lebih memilih menggunakan ojek saat pulang atau pergi ke kantor karena merasa lebih aman, tingkat kecelakaan pada pengguna ojek sangat kecil.


Lantaran sering menggunakan jasa ojek, Nadiem pun sering ngobrol dengan para tukang ojek langganannya. Dari hasil obrolan dan pengamatannya, ia mengetahui bahwa sebagian besar waktu tukang ojek banyak dihabiskan untuk mangkal dan menunggu penumpang.
Saat di pangkalan ojek, biasanya tukang ojek bergiliran dengan tukang ojek lainnya. Sudah giliran, kadang penumpang sepi. Sementara itu, dari sisi pengguna jasa, keamanan dan kenyamanan ojek belum terjamin 100 persen.

Dari hasil riset itulah ia mendapatkan ide membuat inovasi bagaimana orang bisa dengan mudah memesan ojek melalui ponsel tanpa harus repot ke pangkalan ojek, jadi orang yang jauh dengan pangkalan ojekpun dapat menikmatinya. Tukang ojek sendiri tidak harus mangkal. Bagi penumpang, menggunakan ojek juga lebih aman karena jelas dan terdaftar.


Pada tahun 2011, saat masih bekerja sebagai seorang pegawai, Nadiem perlahan merintis GO-JEK. Namun masih menggunakan sistem sederhana alias manual. Saat itu, penumpang masih menggunakan manual melalui telepon dan kirim pesan via ponsel pintar atau smartphone.

Tiga tahun kemudian, dia memutuskan keluar dari perusahaannya dan menjadi entrepreneur. Padahal saat itu jabatan Nadiem cukup strategis, sebagai direktur e-commerce. Seperti dikutip dari perkataan Nadiem berikut.

 "...Saya tidak betah kerja di perusahaan orang lain. Saya ingin mengontrol takdir saya sendiri," - Nadiem Makarim.
Kini Nadiem Makarim sebagai CEO dan pendiri Go-Jek. Kini, sudah ada 10 ribu sopir ojek yang tergabung dalam Go-Jek. Pertumbuhan 10 ribu Sopir ojek sangat cepat tahun ini. Padahal di awal Januari 2015 saja, mitra Sopir ojek masih 1.000. Aplikasi mobile Go-Jek juga sudah diunduh sebanyak 1 juta.


Pada tanggal 31 Oktober 2015 di ulang tahun yang ke-5 Go-Jek pun menguji keberuntungan para penggunanya, dengan menyebarkan beberapa motor besar di kawasan Antasari dan Kemang. Siapa sangka bila kamu memesan Go-Jek, lalu datang supir Go-Jek, lengkap dengan atribut berwarna hijaunya, namun mengendarai motor Harley Davidson, Ducati, dan BMW.
Bahkan, di salah satu motor besar tersebut, Rifat Sungkar turut berpartisipasi sebagai supir Go-Jek #SurpriseRide. Go-Jek sendiri, terlihat di akun Instagram Rifat Sungkar @rifato, memang memberikan dukungan khusus kepada lelaki yang dikenal sebagai pembalap profesional tersebut.
Sekarang, aplikasi Go-Jek tidak hanya menyediakan jasa untuk mengantar penumpangg ke tempat tuujuannya. Tapi sudah ada aplikasi GO-SEND untuk mengantarkan paket, GO-FOOD untuk membelikan dan mengantar makanan ke pemesan, GO-MART untuk berbelanja, GO-BOX untuk melayani pindahan rumah, GO-CLEAN untuk membawakan kita seseorang untuk membantu membersihkan rumah, GO-GLAM untuk mengantarkan seorang professional untuk menata rambut dan make-up, GO MASSAGE untuk membawa seseorang untuk memijat customer, dan yang terbaru adalah aplikasi GO-BUSWAY, seperti perbincangan sebelumnya dengan Bapak Ahok pada tanggal 23 Februari 2015 yang lalu.







Penulis: Trisna Novita Sari

Sumber:


READMORE